Thursday, January 12, 2012

IMC vs IMC

Labels: , ,

Friday, December 02, 2011

"Keep Learning Whenever it Might be"



"Kala peradaban bergerak mengikuti arus besar global, di semua penjuru tergerak mengikutinya dengan adaptasinya sendiri-sendiri. Era yang tengah kita hadapi bersama bukan harus membawa kita ke pusaran yang tak semestinya, tetapi memahami konstelasi dan memberi solusi adalah pilihan terbaik. Demikian adanya dengan program Lecture for Lecturer yang digagas Adgi adalah upaya menipiskan kesenjangan-kesenjangan dari dinamika dunia desain komunikasi visual, utamanya antara dunia praktisi dan edukasi".

Arief ‘Ayip’ Budiman

Syarat Kepesertaan:
1.Guru SMK DKV/ Multimedia yang masih aktif
2.Dosen DKV & Ilmu Komunikasi yang masih aktif
3.Praktisi DKV/ Desain Grafis yang ingin menjadi mentor/ pengajar/ pengisi workshop maupun seminar DKV

Cara mendafarkan:
1.SMS ke 0817.941.7881 berisi nama_asal sekolah/kampus_kota
2.Atau Email ke iqbal@rekarupa.net
3.Transfer pendaftaran Rp 750,000,- (untuksatu orang) kerekening BCA 8020119838 an. Moh Arief Budiman SSn. Langsung SMS ke nomer 0815.7870.0488 sebagai konfirmasi, & kirim tanda bukti pembayaran ke email iqbal@rekarupa.net
4.Datang di acara briefing pada hari Rabu, 14 Desember 2011 di Petakumpet jam 20.00 wib




Thursday, March 24, 2011

Talkshow PRS #02 Plus CV Singkat Narasumber

Labels: , ,

Wednesday, March 16, 2011

Talkshow PRS #02




Labels: ,

Wednesday, February 16, 2011

accept our challenge

Monday, November 08, 2010

Melting Line

Berbicara Iklan Sekarang!

Perkembangan periklanan di era sekarang barangkali tidak sama dengan sepuluh tahun yang lalu apalagi berbicara dua puluh tahun sebelumnya. Istilah Above the Line dan Below the Line yang pada awalnya dimunculkan oleh Procter & Gambler sebuah brand besar kelahiran Amerika yang bertujuan untuk memisahkan aneka ragam iklan yang mereka gunakan dalam memasarkan produk-produknya (Jeffkins, 1994). Dalam sejarahnya pemisahan dua garis itu untuk mempermudah pengurusan biaya administrasi karena yang satu berbea dan yang lainnya tidak, dalam pemasangannya di media. Pada perkembangannya ATL dan BTL dikenal untuk menunjukkan mana media utama (ATL) dan media pendukung (BTL). Namun sekarang, dengan melihat perkembangan kompetisi antar brand, bagaimana agar tampil lebih dekat dengan konsumennya dan terlihat hebat, maka ATL dan BTL sudah tidak lagi bisa diterapkan seperti dua puluh tahun yang lalu. Bahkan ada seorang teman mengatakan dalam obrolan di siang bolong “ ATL & BTL? Commission based & non commission based... mmmh but this is 50 years out of date!”.

ATL & BTL sekarang ini dilihat lebih sebagai sebuah strategi. ATL lebih ke thematic dan BTL berbicara tactical.

Thematic : Seeks to tell you about the brand and change your view of it (telling)

1. Builds brands by communicating brand values and product benefits

2. Long-term positioning

3. Building share of minds and share of market

4. Reassures existing users that brand is still there


Tactical : Seeks to build a relationship between you and the brand (apealling)

1. Urgent purpose

2. Short-term goals

3. Improving sale

4. Invites consumer to enjoy a relationship with the brand quickly

Meminjam kalimatnya Ibu Amalia E. Maulana, praktisi senior bidang marketing dan periklanan,bahwa dengan situasi baru seperti sekarang ini, jasa yang ditawarkan oleh biro iklan dan biro pendukung kegiatan komunikasi non-iklan sudah sangat terfragmentasi, penggunaan istilah komunikasi ATL vs BTL menjadi tidak relevan lagi, dan sudah waktunya ditinggalkan. Adapun istilah baru, TTL (Through the Line), tidak akan menjadi solusi untuk memperjelas perbedaan konsep dan prinsip dalam kegiatan komunikasi pemasaran. Mungkin ada baiknya mulai sekarang kita lupakan saja istilah LINE. Forget the line! It is the end of the line,begitu kata beliau.Sudah selayaknya dalam perkembangan brand, teknologi, dan jasa bidang periklanan, agency periklanan dalam hal ini agency lokal harus melakukan upaya peningkatan kemampuan,terutama untuk menjadikan brand yang ditangani berhasil diterima oleh konsumen dengan baik. Tidak sekedar berhasil dalam brand awareness tetapi juga image building sekaligus menjadi brand loyalty bagi konsumennya.Perspektif Strategic Brand Planner dalam menyusun Integrated Marketing Communications(IMC), sebaiknya lebih didasari oleh tujuan komunikasi brand.Pinasthika Advertising Festival sebagai sebuah ajang periklanan yang diikuti oleh seluruh agency lokal se-Indonesia dan Asia, menjadi sangat relevan untuk melatih kemampuan dan ketajaman agency dalam mengasah kreativitas dan berbagai hal yang berhubungan dengan periklanan. Mengukur sejauh mana proses kreatif dan output kreatif dalam menangani sebuah brand, termasuk upaya melakukan pengembangan dalam variasi media yang digunakan.Digital Marketing, idola baru dalam aktivitas branding saat ini selayaknya juga tidak sekedar dipandang sebagai media yang 'sendiri'. Tampak 'sakti' layaknya seorang pendekar silat yang hebat, mampu secara individu mengalahkan musuh-musuhnya tanpa bantuan orang lain. Tentu dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama ketahanan fisiknya akan berpengaruh. Perlu dukungan dengan berbagai pihak sehingga mampu melakukan 'peperangan' dalam rentang waktu yang lebih lama. Sehingga Digital Marketing disikapi sebagai satu bagian kecil (walaupun sangat berpengaruh) dan merupakan salah satu bagian dari strategi besar di dalam Integrated Marketing Communication (IMC)


Kreatifitas adalah senjata terbaik

Ratusan entry yang dilombakan di ajang bergengsi Pinasthika Advertising Festival yang jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun, kini telah menjadi primadona insan kreatif di seluruh Indonesia dan menjadi wahana yang sangat baik untuk melakukan peningkatan kualitas diri. Walaupun disana sini banyak sekali yang berkomentar miring terhadap karya yang dilombakan. “Sekarang kalau diliat bener nih... iklan-iklan yang ada sama saja... paling-paling beda di eksekusinya doank! Nggak ada perkembangan yang signifikan gitu...”

atau..., “Nih iklan kok Thailand banget seh, napa nggak bikin yang citarasa Indonesia gitu... lokal colornya nggak mencerminkan budaya sendiri”.

Dan masih banyak lagi pendapat miring tentang sebuah kompetisi periklanan.

Ada sudut pandang berbeda ketika berbagai komentar di atas kita sikapi dengan kacamata positif, bahwa ajang bertemunya insan periklanan di Pinasthika Advertising Festival adalah bagian dari 'arisan' nasional tanpa kocokan undian yang di dalamnya terjadi interaksi untuk saling belajar dan menempa diri. Ada Ad Seminar, Ad Gallery, Ad Expo, Meet the Jury Forum, dan masih banyak lagi agenda yang bisa dimanfaatkan oleh semua pecinta dunia periklanan. Tidak hanya para praktisi periklanan namun juga mempertemukan para akademisi, mahasiswa, pemilik brand besar maupun kecil, semuanya akan mendapatkan wahana untuk saling bertukar pikiran dan belajar.

Kreativitas memang menjadi senjata terbaik untuk mempertemukan berbagai pihak yang ada hubungannya dengan industri ini. Dengan perkembangan teknologi, dan kesamaan mendapatkan akses informasi maka kemampuan insan periklanan dewasa ini boleh dikatakan merata. Sudah tidak ada lagi agency besar maupun kecil, perorangan maupun kelompok. Ketika seluruh karya terpajang di dinding yang sama, yang berbicara adalah ide/ kreativitas. Sejauh mana sebuah karya iklan mampu berkomunikasi dengan baik dan kualitas eksekusi yang 'ciamik'.


Pinasthika sebagai alasan untuk bertemu

Seperti paragraf yang ada di atas, sebaiknya sudah tidak ada lagi garis dalam sebuah media. Lebih baik dibuang dan mantap untuk mengatakan no line advertising! Tidak ada lagi pembatas agar kita semakin bebas dan liar untuk berkreasi. Era digital sebaiknya disikapi cerdas sebagai momentum bergeraknya berbagai cara agar sebuah brand semakin hidup dan membumi.

Demikian halnya dengan Pinasthika. Sudah saatnya menjadi ajang melebur (melting)-nya seluruh insan kreatif negeri ini tanpa sekat pembatas, antara agency besar maupun kecil, saling memberi dan menerima, bertukar pikiran demi perkembangan industri periklanan Indonesia.

Bravo Pinasthika! Bravo Kreativitas!
(*disampaikan dalam katalog Pinasthika 2010)

Andika Dwijatmiko
CEO Syafa’at Marcomm
Direktur Pendidikan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI)
Pengurus P3I Pengda DIY

Labels: ,

Friday, August 20, 2010

Seputar Tanya Jawab Bisnis Syariah Part #01

Rabu, 18 Agustus 2010 jam 16.30 saya diminta untuk mengisi sebuah acara obrolan menjelang buka puasa di radio Trijaya FM. Pihak radio menginginkan tema yang diusung tidak jauh-jauh dari profesi yang digeluti pembicara. Kesempatan ini sangat baik untuk menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan bisnis yang sedang saya geluti sekarang bersama pak Bey Laspriana dan pak Condro Triono di Syafa’at Advertising yang sebentar lagi berubah bentuk menjadi Syafa’at Marketing Communication. Bisnis Islami/ Bisnis Syariah, merupakan tema yang menarik untuk dibahas dalam diskusi sore itu. Beberapa pertanyaan terlontar, persis seperti yang saya perkirakan. Kebanyakan menanyakan hal-hal mendasar terbangunnya bisnis Islami. Baik dari sisi semangatnya, motivasinya, maupun hal-hal dilapanganyang biasanya mengganjal praktik bisnis Islami.

Untuk lebih jelasnya beberapa materi rangkuman saya tuliskan dibawah ini yang diambil dari berbagai sumber salah satunya dari buku terbitan Pengusa Rindu Syariah (PRS) yang pertama. Kritik dan saran sangat saya nantikan untuk perbaikan kedepan.


Seputar Tanya Jawab Bisnis Syariah

Part #01


Mengapa bisnis harus Islami (bisnis syariah)?

Sebagai konsekuensi kaum muslimin dalam bermuamalah, disetiap gerak dan langkahnya menstandarkan dirinya dengan syariah. Dan bisnis Islam adalah jawaban bagi seorang muslim dalam menjalankan bisnisnya. Konsekuensi seorang muslim dalam upayanya menjadi Abdullah (hamba Allah) yang taat.

Karena pada dasarnya seorang muslim kelak akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa-apa yang diperbuatnya.

Dua telapak kaki manusia akan selalu tegak (dihadapan Allah) hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia korbankan. [HR. Tirmidzi dari Abu Barzah ra]

Sungguh akan datang kepada manusia masa dimana seseorang tidak lagi peduli dengan cara apa ia mengambil harta, apakah cara itu halal ataukah haram. [HR. Bukhari]

Jangan membuatmu takjub, seseorang yang memperoleh harta dari cara yang haram, jika dia infakkan atau dia sedekahkan maka tidak diterima, jika ia pertahankan maka tidak diberkahi dan jika ia mati dan tinggalkan harta itu maka akan jadi bekal dia ke neraka. [HR. ath-Thabrani, ath-Thayalisi dan al- Baihaqi, lafal ath-Thabarani]


Apa yang membedakan bisnis konvensional dengan bisnis Islami?

Pertama, terletak pada Asasnya. Bisnis konvensional meletakkan asas atau hal mendasar dalam pelaksanaan bisnisnya dengan aspek material semata. Sementara bisnis Islam dalam setiap aktifitasnya berlandaskan Aqidah Islam.

Kedua, Motivasi yang lahir. Bisnis konvensional hanya memiliki motivasi duniawi. Sedangkan didalam bisnis Islam motivasinya adalah dunia dan akherat. Bagaimana mengembangkan bisnis yang ’berkat’ dan ’berkah’. Berkat berarti upaya secara profesional mendapatkan profit yang berkesinambungan, berkah berarti mengharapkan ridlo Allah dalam setiap jengkal gerak langkah dalam bisnis sehingga mendapatkan rezeki yang berkah dan halal.

Ketiga, Orientasi Bisnis. Konvensional memiliki orientasi; Profit, Pertumbuhan, dan Keberlangsungan. Sedangkan Bisnis Islam; Profit dan Benefit (non materi/qimah/nilai), Pertumbuhan, Keberlangsungan dan Keberkahan.

Keempat, Strategi Induk. Terlihat didalam visi dan misi perusahaannya. Perusahaan konvensional, setingi-tinginya visi yang diemban hanya terbatas pada kepentingan material belaka. Sedangkan bisnis Islam visi dan misi organisasinya terkait erat dengan misi penciptaan manusia didunia (sebagai abdullah).

Kelima, Manajemen/Strategi Fungsional Operasi/Proses: Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat semata. Sedang didalam bisnis Islam, jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, mengedepankan produktivitas dalam koridor syariah

Keenam, Manajemen/Strategi Fungsional SDM. Konvensional mengandalkan SDM profesional, SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab pada diri dan majikan

Masih ada tiga poin mendasar lain yang membedakan bisnis konvensional dengan bisnis Islami. Yaitu pada Manajemen Keuangan, Pemasaran, dan Sumberdaya. Kesemuanya berdasarkan apakah jaminan halal atau haram yang menjadi ukuran keberlangsungannya.


Mengapa harus disebut bisnis syariah?

Sama persis dengan logika sate Padang atau rumah makan Padang. Sate Madura, dan lain-lain. Sebutan ada sate Padang karena warung tersebut berada di pulau Jawa. Coba kita pergi ke Padang. Disana pasti tidak kita dapati sate Padang. Yang ada hanyalah ’sate!’.

Selama kurang lebih tiga belas abad sejak Rosulullah wafat, kekuasaan Islam yang terhampar dari selat Borporus sampai Cordova. Pada saat itu tidak ada istilah bisnis Syariah atau bisnis Islami. Yang ada hanyalah ’Bisnis’. Segala praktek bisnis distandarisasi dengan aturan-aturan Islam. Masyarakat rukun dan damai walaupun berbeda agama/keyakinan menjalankan kehidupan sehari-hari dan menjalankan bisnisnya dengan nyaman dibawah aturan Al Qur’an.

Melihat uraian diatas, dan Ideologi yang berkuasa serta mengatur mu’amalah yang ada sekarang adalah ideologi Kapitalis Sekuler maka penamaan Bisnis Islam/Syariah menjadi penting. Terutama sebagai pembeda dan penjelas. Kehidupan para pebisnis muslim akan dihadapkan pada kenyataan yang cukup berat dimana semua aturan bisnis yang ada sekarang menggunakan aturan kapitalis sekuler tetapi keinginan kuat mereka untuk menjalankan bisnis yang sesuai dengan syariat juga ingin mereka lakukan.

Ali ra berkata,

Andai tidak ada 5 perkara, seluruh manusia

tentu menjadi orang sholeh:

  1. Merasa puas dengan kebodohan

  2. Terlalu fokus terhadap dunia

  3. Bakhil terhadap harta

  4. Riya dalam beramal

  5. Membanggakan diri sendiri

Nasha’ih al-’ibad, hal 32





Labels: , ,