Monday, September 03, 2012
Monday, August 13, 2012
Wednesday, June 20, 2012
Thursday, January 12, 2012
Wednesday, February 16, 2011
Monday, November 08, 2010
Melting Line
Berbicara Iklan Sekarang!
Perkembangan periklanan di era sekarang barangkali tidak sama dengan sepuluh tahun yang lalu apalagi berbicara dua puluh tahun sebelumnya. Istilah Above the Line dan Below the Line yang pada awalnya dimunculkan oleh Procter & Gambler sebuah brand besar kelahiran Amerika yang bertujuan untuk memisahkan aneka ragam iklan yang mereka gunakan dalam memasarkan produk-produknya (Jeffkins, 1994). Dalam sejarahnya pemisahan dua garis itu untuk mempermudah pengurusan biaya administrasi karena yang satu berbea dan yang lainnya tidak, dalam pemasangannya di media. Pada perkembangannya ATL dan BTL dikenal untuk menunjukkan mana media utama (ATL) dan media pendukung (BTL). Namun sekarang, dengan melihat perkembangan kompetisi antar brand, bagaimana agar tampil lebih dekat dengan konsumennya dan terlihat hebat, maka ATL dan BTL sudah tidak lagi bisa diterapkan seperti dua puluh tahun yang lalu. Bahkan ada seorang teman mengatakan dalam obrolan di siang bolong “ ATL & BTL? Commission based & non commission based... mmmh but this is 50 years out of date!”.
ATL & BTL sekarang ini dilihat lebih sebagai sebuah strategi. ATL lebih ke thematic dan BTL berbicara tactical.
Thematic : Seeks to tell you about the brand and change your view of it (telling)
1. Builds brands by communicating brand values and product benefits
2. Long-term positioning
3. Building share of minds and share of market
4. Reassures existing users that brand is still there
Tactical : Seeks to build a relationship between you and the brand (apealling)
1. Urgent purpose
2. Short-term goals
3. Improving sale
4. Invites consumer to enjoy a relationship with the brand quickly
Meminjam kalimatnya Ibu Amalia E. Maulana, praktisi senior bidang marketing dan periklanan,bahwa dengan situasi baru seperti sekarang ini, jasa yang ditawarkan oleh biro iklan dan biro pendukung kegiatan komunikasi non-iklan sudah sangat terfragmentasi, penggunaan istilah komunikasi ATL vs BTL menjadi tidak relevan lagi, dan sudah waktunya ditinggalkan. Adapun istilah baru, TTL (Through the Line), tidak akan menjadi solusi untuk memperjelas perbedaan konsep dan prinsip dalam kegiatan komunikasi pemasaran. Mungkin ada baiknya mulai sekarang kita lupakan saja istilah LINE. Forget the line! It is the end of the line,begitu kata beliau.Sudah selayaknya dalam perkembangan brand, teknologi, dan jasa bidang periklanan, agency periklanan dalam hal ini agency lokal harus melakukan upaya peningkatan kemampuan,terutama untuk menjadikan brand yang ditangani berhasil diterima oleh konsumen dengan baik. Tidak sekedar berhasil dalam brand awareness tetapi juga image building sekaligus menjadi brand loyalty bagi konsumennya.Perspektif Strategic Brand Planner dalam menyusun Integrated Marketing Communications(IMC), sebaiknya lebih didasari oleh tujuan komunikasi brand.Pinasthika Advertising Festival sebagai sebuah ajang periklanan yang diikuti oleh seluruh agency lokal se-Indonesia dan Asia, menjadi sangat relevan untuk melatih kemampuan dan ketajaman agency dalam mengasah kreativitas dan berbagai hal yang berhubungan dengan periklanan. Mengukur sejauh mana proses kreatif dan output kreatif dalam menangani sebuah brand, termasuk upaya melakukan pengembangan dalam variasi media yang digunakan.Digital Marketing, idola baru dalam aktivitas branding saat ini selayaknya juga tidak sekedar dipandang sebagai media yang 'sendiri'. Tampak 'sakti' layaknya seorang pendekar silat yang hebat, mampu secara individu mengalahkan musuh-musuhnya tanpa bantuan orang lain. Tentu dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama ketahanan fisiknya akan berpengaruh. Perlu dukungan dengan berbagai pihak sehingga mampu melakukan 'peperangan' dalam rentang waktu yang lebih lama. Sehingga Digital Marketing disikapi sebagai satu bagian kecil (walaupun sangat berpengaruh) dan merupakan salah satu bagian dari strategi besar di dalam Integrated Marketing Communication (IMC)
Kreatifitas adalah senjata terbaik
Ratusan entry yang dilombakan di ajang bergengsi Pinasthika Advertising Festival yang jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun, kini telah menjadi primadona insan kreatif di seluruh Indonesia dan menjadi wahana yang sangat baik untuk melakukan peningkatan kualitas diri. Walaupun disana sini banyak sekali yang berkomentar miring terhadap karya yang dilombakan. “Sekarang kalau diliat bener nih... iklan-iklan yang ada sama saja... paling-paling beda di eksekusinya doank! Nggak ada perkembangan yang signifikan gitu...”
atau..., “Nih iklan kok Thailand banget seh, napa nggak bikin yang citarasa Indonesia gitu... lokal colornya nggak mencerminkan budaya sendiri”.
Dan masih banyak lagi pendapat miring tentang sebuah kompetisi periklanan.
Ada sudut pandang berbeda ketika berbagai komentar di atas kita sikapi dengan kacamata positif, bahwa ajang bertemunya insan periklanan di Pinasthika Advertising Festival adalah bagian dari 'arisan' nasional tanpa kocokan undian yang di dalamnya terjadi interaksi untuk saling belajar dan menempa diri. Ada Ad Seminar, Ad Gallery, Ad Expo, Meet the Jury Forum, dan masih banyak lagi agenda yang bisa dimanfaatkan oleh semua pecinta dunia periklanan. Tidak hanya para praktisi periklanan namun juga mempertemukan para akademisi, mahasiswa, pemilik brand besar maupun kecil, semuanya akan mendapatkan wahana untuk saling bertukar pikiran dan belajar.
Kreativitas memang menjadi senjata terbaik untuk mempertemukan berbagai pihak yang ada hubungannya dengan industri ini. Dengan perkembangan teknologi, dan kesamaan mendapatkan akses informasi maka kemampuan insan periklanan dewasa ini boleh dikatakan merata. Sudah tidak ada lagi agency besar maupun kecil, perorangan maupun kelompok. Ketika seluruh karya terpajang di dinding yang sama, yang berbicara adalah ide/ kreativitas. Sejauh mana sebuah karya iklan mampu berkomunikasi dengan baik dan kualitas eksekusi yang 'ciamik'.
Pinasthika sebagai alasan untuk bertemu
Seperti paragraf yang ada di atas, sebaiknya sudah tidak ada lagi garis dalam sebuah media. Lebih baik dibuang dan mantap untuk mengatakan no line advertising! Tidak ada lagi pembatas agar kita semakin bebas dan liar untuk berkreasi. Era digital sebaiknya disikapi cerdas sebagai momentum bergeraknya berbagai cara agar sebuah brand semakin hidup dan membumi.
Demikian halnya dengan Pinasthika. Sudah saatnya menjadi ajang melebur (melting)-nya seluruh insan kreatif negeri ini tanpa sekat pembatas, antara agency besar maupun kecil, saling memberi dan menerima, bertukar pikiran demi perkembangan industri periklanan Indonesia.
Bravo Pinasthika! Bravo Kreativitas!
(*disampaikan dalam katalog Pinasthika 2010)
Andika Dwijatmiko
CEO Syafa’at Marcomm
Direktur Pendidikan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI)
Pengurus P3I Pengda DIY
Labels: advertising, News
Monday, July 05, 2010

Labels: advertising, komvis, syafaat
Tuesday, June 23, 2009
Pinasthika tinggal menghitung hari....
Tentang Pinasthika - Be The Legend
BE THE LEGEND
Tema ini akan menjadi semangat baru yang mampu membawa perubahan. Misinya menguak segala mimpi-mimpi terpendam untuk menjadi seorang yang mampu membawa perubahan. Belajar dari seorang legenda berarti memahami konsep idealisme. Sebagai seorang kreatif, memiliki idealisme adalah kode unik diantara banyaknya karya lain. Menciptakan sebuah masterpiece mampu menggerakkan hati banyak orang. Hingga akhirnya karya itu dikenang abadi.
Menempuh tantangan industri jauh ke depan nanti, maka tibalah saatnya untuk memberi kontribusi signifikan untuk industri daerah. Saatnya membawa ide-ide segar ini ke tingkat yang lebih tinggi. Pinasthika 2009 akan Go International. Entri akan mengikutsertakan agensi-agensi lokal seluruh Asia. Melalui gebrakan ini, Pinasthika memastikan positioning-nya sebagai ajang kompetisi agensi lokal, kini dengan lingkup lebih luas dan universal.
Maka saat ini Pinasthika akan 'berbicara' lebih universal. Hal ini dibangun dari pemahaman konsep periklanan yang dapat diterima dan berguna bagi semua lapisan masyarakat. Mengikuti ajang ini berarti juga menghargai ide-ide kreatif sejati. Karena sebuah karya orang iklan itu abadi.
lebih lengkapnya ada di www.pinasthikaward.com
Labels: advertising, News
Wednesday, June 03, 2009
Ad Student Brief Pinasthika Ad Fest 2009
Key Facts/Issues:
Pernahkah Anda bayangkan bahwa jumlah anak putus sekolah di negeri tercinta ini ternyata sudah puluhan juta? Menurut data resmi yang dihimpun dari 33 Kantor Komnas Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi, jumlah anak putus sekolah pada tahun 2007 sudah mencapai 11,7 juta jiwa. Jumlah itu pasti sudah bertambah lagi tahun ini, mengingat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk.
Ternyata, peningkatan jumlah anak putus sekolah di Indonesia sangat mengerikan. Lihatlah, pada tahun 2006 jumlahnya “masih” sekitar 9,7 juta anak; namun setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa. Tidak ada keterangan dari Komnas PA apakah jumlah tersebut merupakan akumulasi data tahun sebelumnya, lalu ditambah dengan jumlah anak-anak yang baru saja putus sekolah. Tapi kalaupun jumlah itu bersifat kumulatif, tetap saja terasa sangat menyesakkan.
Bayangkan, gairah belajar 12 juta anak terpaksa dipadamkan. Dan 12 juta harapan yang melambung kini kandas di dataran realitas yang keras, seperti balon raksasa ditusuk secara kasar hingga kempes dalam sekejap. Ini bencana nasional dengan implikasi yang sangat luas, bahkan mengerikan.
Dewasa ini dimana tuntutan standar pendidikan demikian tinggi dengan slogan kesempatan seluas-luasnya bagi anak Indonesia untuk belajar ternyata tidak seimbang dengan kenyataan. Sangat banyak anak Indonesia yang tidak memiliki kesempatan belajar selayaknya anak-anak orang berpunya. Anak cerdas, pintar, memiliki etos yang tinggi untuk belajar tetapi dirundung duka karena kesempatan itu sirna direnggut kejamnya kehidupan, karena tuntutan orang tua agar anak-anaknya membantu mencari sesuap nasi. Akhirnya panasnya matahari lebih akrab dari pada pensil, debu jalanan lebih intim dibandingkan buku pelajaran, mereka tidak tahu masa depan mereka akan seperti apa. Apakah sama dengan orang tuanya? Menjadi pemulung di kolong jembatan, atau pedagang kecil kaki lima tanpa modal. Atau justru sebaliknya mereka akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik? Tampaknya mimpipun mereka takut, karena kesempatan itu tidak datang pada mereka.
Tidak semua anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk merengkuh mimpi-mimpinya. Masih banyak dari mereka tidak mampu. Saatnya sekarang mengajak semua orang untuk peduli. Saatnya masyarakat yang mempunyai kemampuan lebih untuk turun tangan mengambil bagian dalam mengisi masa depan anak-anak Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mimpi mereka sudah harus dikejar.
Advertising Objectives
Mengajak kepada semua orang yang mampu untuk mendonasikan sebagian hartanya untuk anak-anak Indonesia. Memberikan gambaran yang jelas bahwa tanpa partisipasi masyarakat, anak-anak Indonesia tidak akan mendapatkan kesempatan meraih mimpi-mimpinya
Primary Target Audience
Eksekutif mapan SES A/B, 35 – 45 th
Rutin mencari informasi pada media massa cetak dan elektronik, memiliki email dan akun jejaring sosial, tergabung dalam komunitas/organisasi masyarakat.
Key Message
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif membangun masa depan generasi bangsa dengan membantu anak Indonesia meraih impiannya.
Mandatory
- Komunikasikan Iklan Layanan Masyarakat ini dalam iklan cetak (print ad) yang dipersembahkan oleh PPPI Peduli sebagai mediator utama.
- Arahkan aksi donasi pada situs www.pppipeduli.or.id
Tone & Manner
Humanis, dinamis, kreatif.
Call For Action
- Ya! Saya akan donasi sekarang juga.
- Aku harus bantu anak Indonesia untuk meraih mimpi mereka.
- Tidak bisa ditunda lagi, aku harus sisihkan semampuku untuk mereka.
Labels: advertising, News
Monday, June 01, 2009
launching syafa'at jakarta

dari ki ke ka: Karebet Widjayakusuma (SEM Institute/ host), Dwi Condro (Finance Director), Bey Laspriana (Account Director), Wawan (Graphic Designer), Cahyono (AE), Junaedi (Marketing), Civic Jati Prastowo (Branch Director), Uukz (Art Director), Andika (CEO), Ayip (AD), Anggie (AE), Jamil Azzaini (Inspirator SuksesMulia)
Labels: advertising, News
Wednesday, April 08, 2009
seminar & penjurian communication freak '09
Postingan foto yang telat banget, buat memenuhi janji kepada panitia CF '09 UPN Veteran Jogja.
Selamat atas suksesnya acara. Salut atas foto-fotonya... keren mas...
Nunggu giliran... dari ki ke ka: Aat Srengenge, Andika Syafa'at, Pak Edy UPN
Foto Narsis (dokumentasi banget!)
Diliat, diraba, ditrawang...
Penjurian lomba iklan
Pose biasa....
Labels: advertising, News
Sunday, March 29, 2009
Sunday, February 22, 2009
Sexy Brief, Sexy Idea
Dalam perbincangan sederhana disuasana café remang-remang yang syahdu… halah… dua setengah jam kita bahas tema yang barangkali jarang diangkat dalam diskusi kreatif sehari-hari. ”Sexy Brief, Sexy Idea”. Berikut sekilas alur kerangka materi yang saya susun poin-perpoin tentu saja di software kesayangan powerpoint (makasih Bill…). Materi yang diberikan saat itu sangat subyektif sifatnya. Karena resep merancang iklan dengan pendekatan brief yg sexy kali ini dengan pendekatan yang biasanya Syafa’at Advertising lakukan. Hasil rangkuman belajar bertahun-tahun sehingga menghasilkan formula yang sampai saat ini digunakan untuk menciptakan iklan kreatif yang renyah dan membumi.
Masing-masing creative agency memiliki cara sendiri untuk mendorong ide-ide kreatif mereka muncul. Termasuk bikin resep Brief agar terlihat bagus dan baik ketika harus dibahas di meja meeting antara Creative Dept. dan Account Dept. dan tentu saja Strategic Planner yang selalu standby kapanpun untuk memberikan clue2nya. Menurut Syafa’at, iklan yang kurang “greng” biasanya karena briefnya yang nggak keren, kurang merangsang orang-orang di Creative Dept. untuk memunculkan idenya. So... supaya terjadi hasil yang sebaliknya... pertama yang mesti kita benahi adalah "Brief". Agar ketika brainstorm itu telah berjalan, bisa menjadi peta agar tidak tersesat.
Dalam pembahasan kali ini ada dua brief yang akan kita bahas. 1) Client Brief, 2) Creatif Brief.
Client Brief
Brief yang didapat, adalah penjelasan detil dari klien yang meliputi:
Product/ Company Data & Spesification;
berisi tentang penjelasan detil produk/ perusahaan yang akan dipromosikan
Target Market;
target pasar yang berhubungan dengan spesifikasi luasan tempat/geografis, usia, SES (Strata Ekonomi Sosial) dan ketentuan-ketentuan teknis lainnya.
Target Audience
target yang berhubungan dengan behaviouristis... lebih pada gaya hidup
USP/ESP
USP (Unique Selling Preposition) hal yang unik yang bisa dijual. ESP (Emotional Selling Preposition) secara bahasa lebih ke emosional apa yang bisa dijual didalam tubuh produk tsb.
Marketing Strategy
barangkali Marketing departemen dari klien yang bersangkutan sudah memiliki strategy marketing, sehingga agency bisa mendapatkan bocoran sehingga menjadikan bahan untuk dibuatkan strategy kreatif dan medianya
Research
apakah sebelumnya perusahaan/klien telah melakukan research melalui lembaga research marketing atau melakukannya sendiri sehingga keberadaan/keunggulan/kelemahan produk sudah tercium sedari dini
Time Line Schedule -- D/L
biasanya tim Marketing klien sudah memiliki Time Line Marketing paling tidak untuk satu tahun
Etc
dan lain-lain... kalo mo lebih lengkap lagi maka kita akan lebih dekat lagi dengan brand yg akan kita garap, makanya nggak perlu malu untuk nanyain apa saja yg kita mau... nanyak sampek nggak ada pertanyaan lagi!
Sedangkan Creative Brief
adalah brief yang telah diolah baik oleh Strategic Planner, atau Account Executive yang memiliki sense yang kuat terhadap ide yang akan direncanakan muncul. Lebih baik memang Creative Brief ini hasil diskusi dengan Creative Director yang menggawangi departemen kreatif. Biasanya Creative Brief yang nakal dan sexy, akan merangsang departemen ini untuk menghasilkan ide-ide yang diluar expectasi standart. Intinya, brief uzur… dan tidak kreatif akan memunculkan ide yang biasa-biasa aja. Walaupun tidak setiap saat begitu. Adakalanya sebaliknya. Tetapi seringnya begitu… hehehehe gimana seh… jadi binun....
Berikut ‘Sexy’ Creative Brief …. ala Syafa’at tentunya.
USP/ESP/Brand Essence
Kalimat perasan dari sebuah brand yang meliputi keunggulan atau apapun yang menjadi "sari" dari sebuah brand
Analysis
Analisa produk: bisa menggunakan SWOT/T-Plan/Brandwheel, dll
Competitor
lawan dari brand klien
Fill & Touch
isi & sentuhan-sentuhan
Tone & Manner
nada & cara berbicara
Desired Response
hasrat jawaban terhadap pasar ketika melihat iklan yang diplacement
Mandatory
pesan sponsor (apa yg diinginkan Strat Plan/AE/pesan khusus lainnya)
What to Say
apa yang ingin disampaikan, biasanya berupa kalimat ampuh yg menjadi penuntun menciptakan how to say
How to Say
bagaimana menyampaikannya... lebih baik sudah berupa visual yang nantinya akan digoreskan
Ini memang bukan rumus baru… hanya meramu saja dengan yang sudah ada. Tetapi divermak isinya… dipertajam bahasanya, dibikin lebih menggairahkan. Kekuatan brief tidak terletak pada poin2 yang banyak, tetapi isi dari poin2 tersebut. Bagaimana dengan brief agency Anda?
Labels: advertising, gagasan
Tuesday, February 03, 2009
Brand Activation #2
Setelah kita membahas sedikit tentang contoh apa yang dilakukan pada brand activation pada tulisan sebelumnya, pada topik kali ini kita akan sedikit flashback mengenai pengertian/ definisi dll. Karena… dari searching pagi tadi walaupun hambar karena tidak sambil nyruput teh, banyak yang diantara masyarakat awam menanyakan pengertian mengenai aktifitas yang sebetulnya tidak asing lagi di lingkungan kita.
Mari kita mulai dari awal lagi sebelum kebablasan dan khilangan arah diskusi. Kalau pernah mendengar Soundrenaline nya A Mild, Clear Metamorphoself, Pro-Liga Voli Sampoerna Hijau, dll. Aktifitas tersebut bisa dikatakan sebagai aktifitas Brand Activation. Merupakan aktifitas dua arah dimana sebuah brand ada untuk “bergerak” mendekati target market maupun target audience. Sedangkan target sendiri melakukan aktifitas yang berhubungan dengan fasilitas aktifasi yang disediakan oleh penyelenggara. Berbeda jauh dengan aktifitas iklan yang biasa disebut sebagai media lini atas (newspaper ad, magazine ad, billboard, etc) maupun lini bawah (poster, brochure, flier, etc) . Apa yang dilakukan adalah satu arah. Dimana media yang ada disuguhkan untuk dinikmati atau barangkali dengan bahasa lain memiliki daya ganggu satu arah. Audience tidak ada feedback langsung. Yang menjadi target tidak bisa bersentuhan dengan brand, mengenal, memahami, atau bahkan bercanda dengannya…
Berikut tahapan sederhana apakah sebuah brand harus di aktifasi atau tidak.
Pertama, susun IMC (Integrated Marketing Communication)
Definition: A management concept that is designed to make all aspects of marketing communication such as advertising, sales promotion, public relations, and direct marketing work together as a unified force, rather than permitting each to work in isolation.
Didalamnya meliputi bagaimana kita merancang strategi perang selama setahun. Terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir, dari A – Z. Kenapa? Karena ketika kita sudah merancangnya secara terintegrasi, ada hal-hal yang keluar jalur pada saat pelaksanaan akan ketahuan dan bisa menjadi bahan evaluasi yang jitu.
Kedua, Tententukan Creative Strategy & Media Strategy
Ini masuk di salah satu bagian dalam IMC seperti core competence kita. Yaitu Advertising. Bukan berarti kita tidak membahas sales promotion, PR, direct marketing ... ini hanya untuk membatasi saja... biar fokus. Pasti muaranya ketika fungsi advertising ini berjalan dan didukung oleh fungsi-fungsi yang lain, maka akan menjadi kegiatan yang saling support bukan sebaliknya. Didalam tahapan advertising ada istilah Creative & Media Strategy. Kalau orang-orang kreatif tentu lebih fokus ke Creative Strategy, dengan tahapan yang panjang sehingga menghasilkan sebentuk komunikasi visual yang ciamik yang memiliki daya jual brand-nya. Kalau perlu dilakukan research yang mendalam sehingga pertanggung jawabannya lebih valid. Sedangkan Media Strategy lebih pada bagaimana menterjemahkan hasil visual kreatif itu bisa disampaikan dalam media yang tepat. Sukur-sukur menemukan media baru dalam beriklan. Dengan pendekatan Unconventional Media? Atau Viral Adv? Atau yang lain silahken.
Ketiga, Brand Activation (BA)
Setelah melihat dua tahap sebelumnya kita sekarang bisa memutuskan apakah BA perlu dilakukan atau tidak. Setidaknya bukan semata karena alasan budget sehingga lebih memilih mengurangi placement iklan di lini atas, tetapi karena kebutuhan strategi yang harus dipenuhi.
(diolah dari berbagai sumber)
Labels: advertising, komvis








